headline mata hatiku

28 January 2009

kenapa ustadz salafy tidak mau dialog dengan wahdah islamiyah?

Rabu, 28 Januari 2009 — admin

Al-Ustadz Dzulqarnain

Tanya : Kenapa tidak ada ustadz salafiyyin yang mau dialog terbuka tentang penyimpangan Wahdah Islamiyah dengan ustadz di Wahdah padahal mereka mengeluarkan pernyataaan kalau memang mereka bersalah atau menyimpang maka mereka akan rujuk.

Jawaban : Siapa yang tidak mau dialog ? Siapa yang tidak mau debat? Jelas? Debat itu boleh saja, dialog itu boleh saja. Tapi kami memandang tidak ada manfaatnya debat dengan mereka. Tidak ada manfaatnya debat dengan mereka.

1. Saya sudah pernah lakukan dengan sebagian dari mereka . Saya pernah ketemu dengan Muhammad Ikhwan Abdul Jalil. Sekarang wakil Wahdah Islamiyah (Wakil Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah). Dia tanya kepada saya; “Apa kesesatan kami?” Saya sebutkan 9 point, semuanya dia akui, tidak ada yang dia tolak. Apakah dia rujuk setelah itu? Wallahi, tidak ada pernyataan rujuk ! Itu yang pertama.

2. Waktu ada Yayasan Haramain disini. Mudirnya (pimpinannya-ed) yang bernama Muhammad atau Husain bin Muhammad al-Khalidi itu telah mendebat mereka semuanya . Kemudian membuatkan untuk mereka manhaj aturan-aturan aqidah yang harus mereka pegang. Dan saya baca dari aturan-aturan tersebut, lumayan bagus secara umum, walaupun ada hal-hal yang saya kritisi, tapi setelah itu mereka janji untuk dikeluarkan aturan-aturannya. Tidak dikeluarkan juga. Mereka janji akan disebarkan. Tidak dikeluarkan dan tidak disebarkan. Jelas? Apakah ini pernyataan yang rujuk?? Bahkan waktu itu, Husein ini bilang ke saya, dia sangat kecewa sekali dengan pernyataan Zaitun (Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah-ed) ketika sudah selesai mereka sudah sepakat, Zaitun berkata “Ini mungkin untuk berubah”. Dia sangat marah dan berkata “Apakah manhaj dan aqidah bisa berubah?” Itu sisi yang kedua.

3. Mereka sering menyebutkan bahwa kita tidak mau debat. Kalau masalah debat, bicara, saya yakin bahwa mereka tidak bisa tentang masalah mengadu hujjah dan argumen, mereka juga tahu akan kemampuan kita, dan mereka sudah mencoba itu. Dan mereka punya pelajaran di Panciro sana (salah satu desa di Kab Gowa tempat berdirinya Ma’had Tarbiyatun Nisaa’-ed), kita debat dengan orang-orang LDII. Mula-mula mereka (Wahdah Islamiyah) yang hadapi, tidak ada selesainya, cerita-cerita sana-sini. Dan alhamdulillah kita masuk…, setelah itu selesai. Orang LDII sampai sekarang Alhamdulillah selesai urusannya. Dan mereka (Wahdah Islamiyah) tahu kemampuan kami untuk itu. Tapi yang menjadi masalah orang yang membangkang tidak menerima kebenaran, tidak ada faedahnya duduk dengan mereka, tidak ada faedahnya duduk dengan mereka. Maka insyaAllahu Ta’ala, terbuka pintu (dialog-ed) jika ada manfaatnya dan ada maslahatnya.

4. Saya sudah mengeluarkan dari 5 tahun yang lalu. Kurang lebih 6 kaset penjelasan tentang kesesatan Wahdah Islamiyah, mana bantahannya? Dan saya tantang sampai sekarang mana bantahannya. Dan InsyaAllah sebentar lagi saya keluarkan buku tentang mereka. Kalau memang mereka bisa untuk berbicara ilmiyah, maka keluarkan bantahan, selesai. Biarkan orang mendengarkannya. Jangan hanya sekedar berbicara.., tidak mau debat, tidak mau ini… (seperti syubhat yang sering dilontarkan Wahdah Islamiyah terhadap para asatidzah salafy-ed)

5. Kemudian lebih daripada itu saya pernah nyatakan, saya telah tegakkan hujjah kepada mereka . Dan mereka kalau tetap seperti itu membuat kedustaan terhadap kami, maka saya tantang mereka untuk mubahalah (1) dimanapun mereka suka. Dan ini sampai sekarang masih tetap saya berlakukan dan sampaikan kepada mereka.

Ditranskrip dari salah satu pertanyaan yang disampaikan kepada Ustadz Dzulqarnain di Daurah Masjid UIN Alauddin Makassar, 09 November 2008.

Catatan : Artikel ini boleh dicopy dengan mencantumkan sumber www.groups.yahoo.com/groups/nashihah/48 .

——————–
(1) Mubahalah adalah doa yang bersungguh-sungguh diantara dua pihak yang berbeda pendapat. Tujuannya agar Allah Subhaanahu wa Ta’ala menjatuhkan kutukan berupa laknat kepada pihak yang berdusta.

Allah Subhaanahu wa Ta’alaa berfirman :

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta (QS. Al-Imran : 61)

__________

Sumber Artikel: http://almakassari.com/?p=309#more-309



3 comments:

ibnu 13 February 2009 at 08:32  

Assalamu alaikum, Sedikit mencerna point per point, sepertinya belum ada jawaban yang ilmiyah hanya sebatas klaim..

nuzulul 4 March 2009 at 08:46  

wa'alaikumussalam,
untuk bermuhasabah, sebab sacara batiniyah kita telah memiliki pilihan itu. sebab sejatinya aqidah, terkadang terasa tidak adil bagi kita (manusia) sebab akan membatasi mu'amalah (yang berasa nikmat menurut manusia) sebagai kosekuensi berjalannya syara' sebagai implementasi aqidah yang kita yakini tersebut. itulah, kadang terasa tidak ilmiyah (bagi kita). syukron. nukilan untuk saudaraku di mataram. salam untuk keluarga.

Al-Faruq 27 February 2012 at 01:29  

afwan ustad. ana ikhwah d makassar. mau tanya bagaimana pendapat ustad dengan situs ini http://www.alinshof.com/

Post a Comment

Sampaikan pesan dengan baik. Anda sopan, saya segan. Yang sudi berkomentar di sini, semoga Allah membalas kebaikan Anda. Matur nuwun.

sponsored by

Daftar ke PayPal dan langsung menerima pembayaran kartu kredit.

  ©diotak-atik oleh -- Mas 'NUZ.